Selasa, 18 Desember 2012

SYARAT PENGOBATAN YANG MANJUR

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad,
keluarga dan sahabatnya.
Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan telah menurunkan untuknya obat, hal
itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak
mengetahuinya.” [Riwayat Ahmad, dinyatakan shahih oleh Al-Hakim]
Agar suatu pengobatan manjur dan mendatangkan hasil, kita harus mengindahkan beberapa persyaratan. Dan berikut ini akan saya paparkan dua syarat utama bagi pengobatan yang manjur.
SYARAT PERTAMA : PENGOBATAN TEPAT
Agar obat yang Anda gunakan benar-benar berguna dan manjur, sehingga penyakit yang
Anda derita sembuh, pengobatan Anda harus tepat.
• Tepat ketika mendiagnosis penyakit yang Anda derita
• Tepat memilih obat
• Tepat dalam dosis obat
• Tepat waktu penggunaan
• Tepat dengan menghindari berbagai pantangan dan hal lain yang menghambat kerja obat.
Bila Anda melakukan kesalahan pada satu dari hal-hal tersebut maka sangat dimungkinkan
pengobatan yang Anda lakukan tidak akan mendatangkan hasil sebagaimana diharapkan.
Demikianlah sebagian dari pelajaran yang dapat kita petik dari hadits Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam berikut,
Dari sahabat Jabir Radhiyallahu anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
beliau bersabda, ‘Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat
suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izzin Allah Azza wa Jalla.‟” [HR Muslim]
Ibnul Qayim rahimahullah, mengomentari hadits ini dengan berkata, “Pada hadits Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan dengan ketepatan (kecocokan) obat
dengan penyakit. Sebab, tidak ada satu makhlukpun melainkan memiliki lawannya. Dan
setiap penyakit pasti memiliki obat yang menjadi penawarnya, yang dengannya penyakit itu
diobati. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaitkan kesembuhan dengan ketepatan dalam
pengobatan. Ketepatan ini merupakan hal yang lebih dari sekedar ada atau tidak adanya obat
(bagi suatu penyakit, pen.) karena obat suatu penyakit bila melebihi kadar penyakit, baik pada
metode penggunaan atau dosis yang semestinya akan berubah menjadi penyakit baru. Bila
metode penggunaan atau dosis kurang dari yang semestinya, maka tidak akan mampu
melawan penyakit, sehingga penyembuhannya pun tidak sempurna. Bila seorang dokter salah
dalam memilih obat, atau obat yang ia gunakan tidak tepat sasaran, maka kesembuhan tak
„kan kunjung tiba. Bila waktu pengobatan dilakukan tidak tepat dengan obat tersebut, niscaya
obat tidak akan berguna. Bila badan pasien tidak cocok dengan obat tersebut atau fisiknya
tidak mampu menerima obat tersebut atau ada penghalang yang menghalangi kerja obat
tersebut, niscaya kesembuhan tak kan kunjung tiba. Semua itu dikarenakan ketidaktepatan
dalam pengobatan. Bila pengobatan tepat dalam segala aspeknya, pasti –dengan izin Allahkesembuhan
akan diperoleh. Inilah penafsiran terbaik bagi hadits di atas. [Zad Al-Ma’ad, 4/14-15]
Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah mengatakan yang senada dengan ucapan Ibnul Qayyim,
“Pada hadits riwayat sahabat Jabir Radhiyallahu ‘anhu terdapat isyarat bahwa kesembuhan
tergantung pada ketepatan dan izin Allah. Yang demikian itu dikarenakan suatu obat kadang
kala melebihi batas baik dalam metode penggunaan atau dosisnya, sehingga obat tersebut
tidak manjur, bahkan dimungkinkan obat itu malah menimbulkan penyakit baru.[ Fath Al-Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, 10/135]
SYARAT KEDUA : IZIN ALLAH
Sebagai seorang muslim Anda pasti beriman kepada takdir Allah. Anda mempercayai bahwa
segala sesuatu di dunia ini terjadi atas kehendak dan ketentuan dari Allah Ta’ala.
 “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut takdir (ketentuan).” [Al-Qomar :
49]
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Segala sesuatu (terjadi) atas takdir (ketentuan dan kehendak), hingga rasa malas dan
semangat pun (terjadi atas takdir).” [HR Muslim]
Kehendak dan ketentuan Allah ini mencakup segala sesuatu, tidak terkecuali penyakit dan
kesembuhan yang menimpa manusia. Oleh karenanya, Nabi Ibrahim „Alaihissallam berkata
sebagaimana dikisahkan dalam Alquran,
“Dan bila aku sakit, maka Dialah Yang menyembuhkan.” [Asy-Syu‟ara : 80]
Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila ada salah seorang dari anggota
keluarganya yang menderita sakit, atau ketika menjenguk orang yang sedang sakit, beliau
mengusapnya dengan tangan kanannya, sambil berdoa,
Ya Allah, Rabb seluruh manusia, sirnakanlah keluhan, sembuhkanlah dia, sedangkan
Engkau Dzat Penyembuh, tiada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan
yang tiada menyisakan penyakit.” [Muttafaqun ‘alaih]
Oleh karenanya, pada hadits Jabir Radhiyallahu ‘anhu di atas, selain mengaitkan kesembuhan
dengan ketepatan dalam pengobatan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
mengaitkannya dengan kehendak Allah,
“Bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin
Allah Azza wa Jalla.”
Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Dan pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Yang menurunkan obat adalah (Dzat) yang menurunkan penyakit.” [Riwayat Al-Imam
Malik dan lainnya]
Terdapat dalil (yang menjelaskan) bahwa kesembuhan, tidak ada seorang pun yang mampu
menyegerakan kedatangannya, dan tidak seorang pun yang mengetahui waktu
kedatangannya. Sungguh aku telah menyaksikan sebagian dokter (tabib) yang berusaha
mengobati dua orang yang ia anggap menderita penyakit yang sama. Keduanya ditimpa
penyakit pada waktu yang sama, umur yang sama, berasal dari negeri yang sama, bahkan
kadangkala mereka adalah dua orang saudara kembar, dan makanan mereka pun sama. Sebab
itu, dokter tersebut mengobati keduanya dengan obat yang sama. Akan tetapi, salah satunya
sembuh, sedangkan yang lain malah mati atau penyakitnya berkepanjangan. Orang kedua itu
baru sembuh setelah sekian lama, yaitu tiba waktu yang telah Allah tentukan
kesembuhannya”. [Al-Tamhid karya Ibnu Abdil Barr, 5/264]
Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata, “Di antara pelajaran yang terkandung dalam
sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
Obat itu diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang
tidak mengetahuinya
(Di antara pelajaran tersebut ialah) apa yang dialami oleh sebagian pasien. Ia berobat dari
suatu penyakit dengan suatu obat lalu ia sembuh. Kemudian pada lain waktu ia ditimpa oleh
penyakit yang sama, lalu ia pun berobat dengan obat yang sama, tetapi obat itu tidak manjur.
Penyebab terjadinya hal semacam ini adalah kebodohannya (ketidaktahuannya) tentang
sebagian karakter obat tersebut. Mungkin saja ada dua penyakit yang serupa, sedangkan salah
satunya terdiri dari beberapa penyebab (penyakit/ komplikasi), sehingga tidak dapat diobati
dengan obat yang telah terbukti manjur untuk mengobati penyakit yang tidak komplikasi, di
sinilah letak kesalahannya. Dan kadang kala kedua penyakit tersebut sama, tetapi Allah
menghendaki untuk tidak sembuh, maka obat itu pun tidak manjur, dan saat itulah runtuh
keangkuhan para tabib (dokter).[Ibid]
Penjelasan diatas membantah praduga atau pemahaman sebagian orang bahwa bila suatu hal
telah dinyatakan sebagai obat bagi suatu penyakit maka harus pasti manjur dan penyakit
sirna. Atau, apabila imunisasi terhadap suatu penyakit telah diberikan maka anak kita pasti
kebal dan terhindar dari penyakit tersebut. Sadarlah wahai saudaraku, semua yang kita
lakukan dan kita upayakan hanyalah sebatas usaha sedangkan Allah yang menentukan dan
menakdirkan. Dahulu dinyatakan,
Bila takdir telah datang maka sirnalah kehati-hatian.”
Maksudnya, bila Allah telah menentukan suatu penyakit menimpa seseorang, atau bila ajal
telah datang maka berbagai upaya yang ditempuh manusia untuk menghindari tidak lagi
berguna, dan kehendak Allah lah yang pasti terjadi. Aqidah dan keyakinan ini tidak boleh kita
lupakan kapan pun kita berada, serta apa pun profesi kita. Kaitannya dengan proses
pengobatan setiap penyakit yang kita derita, maka dapat dirangkum dalam beberapa hal
berikut.:
1. Hendaknya kita yakin, bahwa yang menciptakan penyakit adalah Allah, dan yang
menentukan bahwa penyakit tersebut menimpa kita adalah Allah. Kita tidak perlu berkeluh
kesah, kita menerima semuanya dengan lapang dada. Percayalah bahwa dibalik penyakit
tersebut pasti tersimpan beribu-ribu hikmah. Dengan cara ini, apapun yang kita alami akan
mendatangkan kebaikan bagi kita, baik di dunia ataupun di akhirat.
Sungguh mengherankan urusan seorang yang beriman, sesungguhnya segala urusannya
baik, dan hal itu tidaklah dimiliki melainkan oleh orang yang beriman. Bila ia ditimpa
kesenangan, ia bersyukur, maka kesenangan itu menjadi baik baginya. Dan bila ia ditimpa
kesusahan, ia bersabar, maka kesusahan itu baik baginya.” [HR Muslim]
2. Hal selanjutnya yang hendaknya kita lakukan ialah memohon kesembuhan kepada Allah,
menumbuhkan keimanan dan keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang dapat menyembuhkan
penyakit kita. Oleh karenanya, Rasulullah Shallallahui ‘alaihi wa sallam mengajarkan
kepada umatnya doa,
Ya Allah, Rabb seluruh manusia, sirnakanlah keluhan, sembuhkanlah dia, sedangkan
Engkaulah Penyembuh, tiada kesembuhan melainan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang
tiada menyisakan penyakit.”
Kita sering melupakan hal ini. Bahkan, sering kali doa menjadi upaya terakhir yang kita
lakukan dalam upaya penyembuhan, atau hanya kita lakukan bila tenaga medis telah
kesulitan, atau kita telah mengeluarkan banyak biaya sehingga rasa putus asa telah
menyelimuti sanubari dan –mungkin juga- dengan penuh keraguan kita berdoa memohon
kesembuhan kepada Allah, sambil berkata, “Siapa tahu doa kita dikabulkan”. Subhanallah,
dengan tenaga medis kita optimis, akan tetapi dengan kekuasaan Allah kita ragu, sehingga
kita berkata “Siapa tahu doa kita dikabulkan”?
Penulis: Ustadz Dr. Muhammad Arifin bin Badri, M.A.
www.konsultasisyariah.com

Faisal Photographi

Faisal Photographi
Kota Tua